![]() |
Quotes: Rindu - Tere Liye |
"Kamu tidak pernah benar-benar merasa kalah, sampai kamu benar-benar berhenti mencoba."
Sepertinya kalimat jargon ini pantas untuk menggambarkan
gumuruh kisah yang disajikan oleh Tere Liye dalam novel karya fiksi terbarunya.
Rindu. Singkat judulnya. Tapi menarik rasa ingin tahu.
Membaca novel-novel karya Tere Liye cenderung mendidik kita
menjadi seorang pribadi yang lebih realistis─berpikir mengedepankan logika. Selalu terkandung
pesan-pesan moral yang dirangkum dengan barisan kata manis. Mungkin, memang
begini peraturan hukum ‘spontanitas’…. segala sesuatu yang ditulis dengan hati,
secara spontan akan menumbuhkan sensitifitas di hati pula. Seperti novel Rindu
ini─yang lagi-lagi ditulis dengan ‘hati’.
Novel ini ditulis dengan setting
Indonesia di tahun 1938, saat bagde Negara
Hindia Belanda masih melekat. Saat itu memang Indonesia belum merdeka, tapi
kalian salah besar kalau berpikir kisah di dalam novel ini sepenuhnya
menceritakan keadaan peperangan di medan pertempuran. Justru kisah yang
terangkum di dalamnya menggambarkan sosok-sosok yang belajar berdamai dengan
status negeri jajahan. Tepatnya, kisah ini menggambarkan tentang perjalanan
panjang para calon jamaah haji selama sembilan bulan dari Pelabuhan Makasar
hingga ke Jazirah Arab di balik kegagahan BLITAR HOLLAND─kapal uap terbesar milik pemerintahan
Belanda di zaman itu.
Membaca buku ini membawa kita pada perspektif yang berbeda
terhadap pemerintahan kolonial Belanda, seperti kutipan salah satu kalimat dialog di
bawah ini.
“Dan larang bicara tentang kemerdekaan. Omong
kosong. Sergeant itu sendiri tahu persis ada banyak orang Belanda yang tidak
setuju dengan penjajahan oleh kerajaan kami. Ada banyak bangsawan dan kelompok
terdidik yang mengirimkan petisi untuk mengakhiri kolonisasi. Penjajahan tidak
pernah jadi kepentingan rakyat Belanda, melainkan kedok bagi kelompok elit
memperkaya hidup mereka.” (Rindu, hal. 98)
Jadi, wajar saja jika di dalam novel ini kalian akan bertemu
dengan kosakata-kosakata berbau Belanda. Bahasa Asing. Akan sangat mengganggu
pemahaman terhadap jalannya isi cerita jika kita tak mengerti apa maknanya.
Apalagi sama sekali tidak ditemukan footnote
di novel ini. Kok bisa? Tenang,
kalian tak perlu khawatir. Sekalipun Tere Liye tidak menyuguhkan terjemahan
bahasa-bahasa asingnya ke dalam footnote ataupun
glosarium, tapi Tere Liye berhasil menggiring pembaca untuk berpikir cerdas.
Mengajak pembaca pada penafsiran mandiri dengan kalimat deskriptif dalam narasi
maupun dialog yang ditulisnya. Manis. Dan, tidak menggurui.
Sebelum mengulik lebih dalam isi dari novel ini, ada dua hal
kebetulan yang menumbuhkan tanda tanya. Entah kebetulan belaka, entah
disengaja. Hal pertama, nama tokoh anak-anak yang berperan menghangatkan suasana
selama perjalanan dengan sekeranjang kelucuan dan keluguan keduanya yang
menggemaskan. Tokoh kakak-beradik ini memiliki nama yang sama dengan tokoh
utama di kisah Frozen Movie… Anna dan
Elsa. Kebetulan, kan? Atau, memang
terinspirasi dengan Frozen? Entahlah (senyum dikulum). Selanjutnya hal kedua yang cukup menarik, menurut
kacamata ini ada kesamaan antara tokoh Ambo Uleng dengan tokoh di kisah lama
yang pernah ditulis dalam novel Tere Liye sebelumnya. Tokoh yang menyerupai
‘bujang dengan hati paling lurus di sepanjang tepian Kapuas’. Membaca kisah
Ambo Uleng seperti menarik kenangan akan sosok Abang Borno. Misterius dan penuh
kejutan. Kebetulan juga, kah? Bisa jadi, kacamata pembaca ini yang keliru.
Tapi terlepas dari itu semua, seorang pemuda memang harus
seperti itu. Penuh semangat dan selalu berpikir ke depan. Untuk maju dan terus
maju. Bandingkan dengan zaman sekarang, miris sekali membayangkan jika semakin
menjamur pemuda-pemudi yang justru merasa tenang menghabiskan hari-hari mereka
dalam kegalauan. Kosong. Teramat sayang, masa muda tak akan terulang lagi. Dan
waktu terlalu berharga dihabiskan dalam masa-masa tak berguna.
Baiklah, kembali ke dalam kisah dalam novel Rindu ini.
Ada lima tokoh yang memiliki peran sentral dalam kisah ini.
Mereka adalah Daeng Andipati, Gurutta Ahmad
Karaeng, Bonda Upe, Ambo Uleng, dan
pasangan sepuh Mbah Kakung atau Mbah Putri dari Semarang. Bisa dibilang, kisah
ini hasil rangkuman dari jawaban-jawaban atas pertanyaan kelima tokoh tersebut.
Pertanyaan tentang penilaian masa lalu, tentang batas antara kebencian dan
kebahagiaan, tentang kehilangan cinta sejati, tentang takdir dan jodoh, dan
terakhir tentang kemunafikan hati. Deretan pertanyaan yang akan dijawab demi
menumbuhkan kelegaan, tentu saja dengan mengedepankan logika khas Tere Liye.
Dari kelima tokoh di atas, kisah Ambo Uleng─Pemuda yang bersinar bagai rembulan─menurut kacamata pembaca ini terasa
paling menarik untuk dikulik mendalam. Seorang pesakitan hati yang berusaha
mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Dengan
melepaskan, sekaligus mengikhlaskan apa-apa yang telah berada di garis
ketentuanNya. Sesuatu yang tidak pantas dilawan kan? Karena, begitulah misteri
dari takdir.
“Apakah cinta sejati itu? Maka jawabannya,
dalam kasus kau ini, cinta sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan
itu, maka semakin tulus kau melepaskannya. Persis seperti anak kecil yang
menghanyutkan botol tertutup di lautan, dilepas dengan suka-cita. ……… Maka
besok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti kembali dengan cara
mengagumkan. Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita. Jika dia tidak
kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu.” (Rindu, hal. 492)
Terkadang kita berpikir indah sekali kisah-kisah yang disajikan
oleh para penulis─termasuk Tere Liye dengan ‘Rindu’-nya ini. Seperti kisah
negeri dongeng yang happy ending.
Tiba-tiba terjadi secara kebetulan, seperti bermimipi, seperti tidak mungkin. Tapi
sebagai pembaca yang cerdas ada baiknya janganlah buru-buru mengkritik. Protes,
atau mencela dengan bentuk apapun. Tetap ada poin penting yang harus digali. Kun faya kun. Selama Allah berkehendak
pasti akan terjadi. Dan selama ada usaha, bukan berarti tidak mungkin terjadi. Semangat
optimisme (mungkin) itu yang perlu digali.
Layaknya semangat optimisme untuk bangsa ini. Bangsa yang
sudah terlalu lama terlena dalam posisi kemerdekaan. Bangsa yang baru saja
memiliki figur pemimpin negeri baru. Fresh
from the oven. Setidaknya, poin kemerdekaan yang berusaha untuk diangkat ke
permukaan dalam buku ini, semoga dapat menginspirasi kita semua. Sebagai warga
bangsa yang berbudaya, sebagai generasi yang bertanggung jawab akan masa depan
bangsanya, dan sebagai pemimpi yang konsisten antara impian dan usahanya. Cenderung
lebih banyak berpikir, daripada berbangga meratapi ketidakmungkinan.
Akh… sudahlah. Cuap-cuap panjang lebar ini sepertinya harus
diakhiri. Kalau kalian penasaran kisah pastinya, silahkan saja membaca sendiri.
Begitulah. Dan, tak akan pernah rugi.
IDENTITAS
BUKU
Judul buku : Rindu
Penulis : Tere
Liye
Editor : Andriyati
Penerbit : Republika
Penerbit
Cetakan
dan tahun terbit : Cetakan kesatu, Oktober 2014
ISBN : 978-602-8997-90-4
Tebal buku : ii dan 544 halaman
![]() |
Cover Rindu - Tere Liye |
>>END<< By, Andari Hersoe