Title
: Mother (Call Me Mother)
Director
: Kim Cheol-Kyu
Writer
: Jung Seo-Kyoung
Network
: tvN, 16 episode
Drama korea series ini
merupakan drama remake dari Jepang dengan judul yang sama ‘Mother’ dan telah
ditayangkan di tahun 2010. Kemudian diremake lagi di Turki dengan judul ‘Anne’
yang ditayangkan pada tahun 2016. Untuk di Korea sendiri, drama ini mulai rilis
sejak tanggal 24 Januari 2018. Karena drama ini hasil remake, jadi otomatis
jalan kisah di dalamnya sama persis dengan drama-drama yang sudah tayang
sebelumnya. Tapi berani bertaruh, sebanyak apapun kalian menonton drama ini,
sebanyak itu pula air mata baper kalian akan banjir berkali-kali.

Dunia hampir tak kehabisan ide jika
kisah tentang sosok ibu diangkat ke permukaan. Seakan beribu-ribu babak tidak
mampu membendung deretan adegan yang menggambarkan pesona hati seorang ibu. Bukan
hanya karena formula cinta yang ditebarkanya, melainkan juga tutur kata nasihat
yang kerap kali membentuk kematangan pribadi dan sikap anaknya. Lalu, mungkinkan
seorang ibu membenci anaknya? Walaupun itu ibu kandung sekalipun, mungkin tidak?
Jika kalian ragu harus menjawab apa, itu artinya kalian wajib menemukan
jawabannya setelah menonton drama korea satu ini: Mother atau Call Me Mother.
Drama ini bertemakan child abuse dengan
menekankan bagaimana seharusnya pola hubungan ibu dan anak yang lebih sehat.
Drama Mother dimulai dengan
adegan seorang detektif yang menemukan tas sekolah Kim Hye Na (Heo Yeol) telah
basah kuyup tercebur di laut, lalu menyerahkan tas itu ke ibu kandungnya, Ja
Young (Ko Sung Hee). Hye Na merupakan murid kelas TK yang telah beberapa hari
dikabarkan menghilang, bahkan diasumsikan Hye Na sengaja menceburkan diri ke
dalam laut. Kemudian, penonton akan diajak flashback
pada hari-hari sebelum kejadian menghilangnya Hye Na terjadi.
Bermula saat Kang Soo Jin (Lee Bo Young)
menjadi guru pengganti yang mulai mengajar di kelas Hye Na. Soo Jin sebenarnya
adalah peneliti burung terkenal tapi memilih tetap melajang di usianya yang sudah berkepala tiga. Soo Jin yang keras
kepala, mandiri, dan cenderung dingin ini mulai membuka diri saat bertemu dengan
Hye Na. Di mata Soo Jin, Hye Na mengingatkan kembali pada dirinya di masa lalu
sebagai anak yang pernah menjadi korban kekerasan orang tua. Soo Jin menemukan
banyak bekas luka di tubuh Hye Na, tapi anehnya anak itu justru menutupinya
dengan berkata ‘baik-baik saja’. Hye Na memang anak yang tak pernah mengeluh
dan selalu bangga menceritakan betapa baik dan cantik ibu kandungnya.
Ja Young, sebagai ibu yang
pernah melahirkan Hye Na ini tak pernah memperlakukan Hye Na dengan layak. Ja
Young merasa menyesal telah melahirkan Hye Na, dan membuat dia merasa frustasi
kurang kasih sayang seorang pria. Ketika Lee Seol Ak (Son Sook Koo) masuk ke
dalam kehidupan Ja Young, dia justru semakin membuat Hye Na sengsara. Seol Ak sangat
membenci anak-anak, bahkan dia mempunyai riwayat pernah membunuh seorang anak hanya
karena anak itu terlalu ribut menurutnya. Otomatis Hye Na pun diperlakukan sama
olehnya, disiksa bahkan sempat dipukul dengan bola bisbol hingga telinga Hye Na
terpaksa dijahit. Sementara Ja Young membiarkan saja melihat anaknya
diperlakukan kasar. Puncak klimaks terjadi ketika Hye Na dimasukkan ke dalam kantong
plastik sampah, lalu diletakkan di luar rumah saat udara malam bersalju dan
dingin.
Ketika Hye Na berada dalam
posisi mengenaskan di dalam plastik sampah seperti itu, Soo Jin menemukannya. Sejak malam itu, Soo Jin
berniat untuk menjauhkan Hye Na dari ibunya dan membuat seolah-olah Hye Na
menghilang dengan melompat diri ke dalam laut. Namun, alih-alih bermaksud
menyelamatkan Hye Na, justru Soo Jin dijadikan tersangka penculikan. Dalam masa
pelariannya, Soo Jin dipertemukan kembali dengan ibu angkat yang telah mengadopsinya
dari panti asuhan dan bertemu juga dengan ibu kandung yang telah
menelantarkannya di panti asuhan. Dalam masa pelariannya, Soo Jin belajar
mengalahkan ego dengan cinta untuk menerima ibu angkat yang telah rela
berkorban banyak saat mengadopsi lalu membesarkannya seorang diri. Soo Jin juga
belajar memaafkan ibu kandung yang dulu menelantarkannya di bawah pohon depan
panti asuhan.
Sementara Hye Na, semenjak
melarikan diri bersama Soo Jin, dia berubah nama menjadi Yoon Bok. Hye Na mulai
menjadi anak apa adanya yang tidak lagi malu menunjukkan perasaannya. Menangis
saat sedih, dan tersenyum saat tertawa. Hye Na merasakan banyak hal baru dalam
hidupnya, merasakan hangatnya keluarga besar, perasaan dibutuhkan,
membuat dia tidak ragu memanggil Soo Jin dengan panggilan ibu.
Bagian tersedih dari drama
series ini saat episode 13 ketika Soo Jin akhirnya tertangkap oleh polisi yang
selama ini mengejar-ngejarnya. Posisi Hye Na di mata masyarakat awam dianggap
sebagai anak yang diculik, namun saat itu justru Hye Na menangis meraung-raung
ketika polisi memisahkannya dengan Soo Jin. Berulang kali dia berteriak, “Jangan
sakiti ibu saya,” ke polisi-polisi yang menangkap Soo Jin lalu menggiringnya ke
mobil tahanan. Sedangkan Soo Jin pun bersikap sama, berteriak, berontak, karena
tidak ingin dipisahkan oleh Hye Na yang benar-benar telah dianggap sebagai anak
sendiri. Siapkan tisu sebanyak mungkin jika sudah menonton sampai ke bagian
ini, ya.

Kelebihan drama ini, bisa
memberikan pengaruh emosional yang kuat bagi penontonnya. Mampu mengocok berbagai
perasaan, dari sedih, kecewa, marah, hingga gregetan. Awalnya, setelah menonton
episode-episode pembuka, saya sempat bertanya-tanya. Mengapa Hye Na harus
diajak kabur bersama? Mengapa tidak meminta pertolongan ke polisi, melaporkan
tindakan abuse yang telah dilakukan oleh ibu kandungnya? Misal, kalau di
Indonesia bisa melaporkannya ke Komnas Perlindungan Anak. Tapi ternyata, di
bagian akhir-akhir episode akan dijelaskan jika saat itu Soo Jin meminta
bantuan perlindungan dari aparat pemerintah, ujung-ujungnya Hye Na akan tetap
kembali pada ibu kandungnya sebagai pihak yang paling berhak atas pengasuhan
anaknya. Soo Jin khawatir jika Hye Na dibiarkan tetap bersama ibunya, cepat
atau lambat Hye Na pasti akan meninggal. Karena itulah, tindakan ekstrem
melarikan Hye Na menjadi pilihan Soo Jin.
Setiap orang memiliki kenangan
dan masa lalu. Entah baik, entah buruk, kenangan itu pasti akan
membekas di masa mendatang. Keadaan inilah yang berusaha dideskripsikan dalam
drama Mother, dimana hampir setiap tokoh memiliki kenangan masa lalu yang rata-rata ‘menyesakkan’.
Seperti Soo Jin, menyimpan kenangan pahit saat dia ditelantarkan ibunya di
halaman panti asuhan. Lee Seol Ak yang menjadi kejam karena masih menyimpan
traumatis melihat ibunya bunuh diri, korban broken home. Dan, Ja Young yang
terlalu egois merasa ingin disayangi dan diperhatikan oleh seorang pria karena
merasa kehadiran Hye Na membuat ilfil ayah Hye Na lalu meninggalkannya begitu
saja. Membuat dia merasa kurang kasih sayang dari seorang pria, sehingga rela
melakukan apa saja agar pria yang disayanginya tetap mau bertahan bersamanya,
sekalipun itu harus menyakiti anaknya. Parah, kan? Sementara Hye Na, anak yang
cenderung dipaksa menjadi dewasa sebelum waktunya karena keadaan memaksa dia
untuk membuat ibunya selalu merasa bahagia. Kenapa begitu? Karena untuk anak
semacam Hye Na, sosok ibu lah yang menurutnya paling berharga. Sosok ibu
menjadi satu-satunya tempat dia bernaung, saat tak ada lagi pihak luar yang
benar-benar peduli padanya. Peduli dengan tidak mengatasnamakan belas kasihan.
Lalu, mungkin tidak sih ada
orang-orang dengan ‘keunikan’ karakter-karakter ini di dunia nyata? Mungkin
tidak ada seseorang yang berkarakter semandiri Soo Jin, sekejam Seol Ak dan Ja
Young, atau bahkan sedewasa Hye Na di usianya yang baru sembilan tahun? Saya
rasa mungkin. Walau terkadang logika menolak, mana ada ibu di dunia ini yang
membenci anak kandungnya sendiri? Tapi nyatanya, sudah berapa kali kita sering
mendengar berita miris yang mengabarkan tentang orang tua menyiksa anaknya? Bahkan lebih ekstrimnya, ada bayi yang sengaja dibuang oleh orang tuanya. Miris
memang, tapi begitulah kenyataannya.
Karenanya, kelebihan lain
dari drama ini bisa dijadikan sebagai media ‘shock teraphy’ bagaimana
seharusnya seorang ibu, calon ibu, dan orang tua pada umumnya dalam memperlakukan
anaknya. Mengingatkan para orang tua, bahwa sekecil apapun perlakuan buruk yang
dilakukan ke anaknya, apalagi untuk anak yang di bawah umur, kelak perlakuan
itu tetap akan membekas di masa mendatang. Karena pada akhirnya, perlakuan itu
dapat menggiring pembentukan karakter sang anak.
Jadi untuk kalian, berhati-hatilah
dalam bersikap maupun bertutur kata kepada siapa pun. Jangan sampai apa yang kalian katakan,
apa yang kalian lakukan, memberikan efek negatif bagi perkembangan mental orang
lain, ya.
*p.s : Ketika ditulisan ini berhasil dipost, maka tugas rumah Nuber OWOB Regional Jatim untuk minggu ini telah selesai ditunaikan. #DONE #OneWeekOne Book